Guest Post: Personal Brand by Adinda's sister

Hi Bloggers!

Do you care about your personal brand?

Dua tahun yang lalu, Adinda (atau Rachel, terserah manggilnya apa) sempet bilang mau stop blogging di sini. Tiba2 blog ini shutting down dan Adinda bilang alasannya abisnya gini, abisnya begitu (yang gue simpulkan sebagai the effect of pregnancy hormones) padahal intinya Adinda kehilangan identitasnya karena tidak punya apa yang disebut pengendalian pada saat publishing sebuah post. Gue memang bukan blogger & pengamat blog tapi sbg salah satu ruang terbuka, sedikit/banyak blog itu menciptakan personal brand melalui apa yg ditulis. Gue ngedapetin pelajaran ini saat gue presentasi business plan saat gue kuliah mungkin sekitar 10 atau 11 tahun yang lalu. My team were working hard at making our corporate brand sounds ellegant. Salah satu tim gue (orang Jepang) percaya itu bisa dilakukan dgn menciptakan suatu image yang rapi, physically. Dia minta gue sisir rambut gue yang keriting dan panjang (serta klimis pol karena males kramas *air di States mahal, catet*). Setelah gue capek2 sisir, eh... dia minta gue dicepol aja. Gondok banget loh gue... Ini hanya untuk presentasi kelas business kok sampai acak2in penampilan gue.....?! Malem itu *yes, gue presentasi malem2* dia jelasin panjang lebar tentang corporate branding ke gue yang engga ada di Business Plan yg udah kita bikin. Gue mengutuk dia dengan bilang "Damn you!" dalem hati, tapi akhirnya sepanjang kuliah, bahkan sampai sekarang gue masih inget tentang topik Branding ini.

Kalau gue coba kaitin sama blogging, jadinya blog entries itu mencerminkan personal branding kita (unless nulis blognya dalam group, itu jadinya group branding). Gue engga terlalu sering baca blog, tapi kalau Googling, yes, gue bisa tiba-tiba nyasar ke blog dan bacain beberapa tulisannya kalau seru. Some people are completely in control of their personal brand and define it through every-single-thing they post. Contoh: Ada yang nulis pakai "Saya" instead of "Gue/Aku", dia mungkin ingin personal brandnya lebih high class mempertimbangkan "Saya" itu berat gokil kesannya. Orang lainnya lebih seneng nulis dgn bahasa Inggris yang artinya dia hanya ingin blognya dimengerti oleh kalangan tertentu yang fluent in English... Adinda adalah aliran Cincha Lawra yang suka campur2in bahasa Inggris-Indonesia (ya berarti dari post ini gue juga sih...!!) Apa yang dishare juga menampilkan personal brand si writer. Misalnya: Ada yang share tentang fotografi melulu (udah ketahuan dia ingin dipersepsikan sebagai fotografer), foods melulu (udah ketahuan juga kan?), curhat (lebih ketahuan?). But just like some firms, there are people who don't even think they have personal brand - just reputations in blogging area. Are they right or wrong? Well, in my opinion it's not about right or wrong... Kalau kita engga menciptakan our own personal brand, orang lain yang akan membuatkannya untuk kita.

Do you wanna know what your personal brand is? Ada satu cara untuk mengetahuinya: Ask people what they think of your blog. (Unfortunately, inilah yg bikin blog ini sempet hiatus 2 tahun lalu -dan beberapa hari lalu- adalah pas Adinda nanya tentang personal brandnya di blog ini, beberapa jawaban menurutnya cukup mengecewakan. She finally said: I have to be conscious of how we're presenting ourselves on this blog. Jadilah hiatus!). Jawabannya pasti akan beda2 because
  1. Everyone we interact with is going to have a unique relationship with us and
  2. Everyone has his/her own feeling and assumption about ourselves
and it's going to affect the things they choose to remember about us. People will make up their own opinion about us, right? Just do something interesting and be yourself... and respect yourself *errrr* ...... You'll create a good personal brand. You are what you eat; You are what you think; You are what you wear; Sama juga dengan halnya in blogging, you are what you share but people are always going to have opinions.

If you are reading this blog, you're obviously pretty smart and wise already, thus I don't expect that anything I've said here is earth-shattering to you. And that's part of the last lesson: Create blog post (or work, in your real life) that you're proud of, and let it speak for itself.


Your guest writer, with love,
Ali Amanda W.

2 comments:

mrs rizki said...

Fortunately, I'm not judge-y, yeah, gw tau ga ada tuh bahasa inggrisnya judgy LOL. Jadi kalaupun blog walking, bahkan blog ini sebulanan terakhir gw ikutin sampe obrak abrik blog lama di Live Journal and FS nya Adhit pendapat gw tentang keluarga kecil yang berisi terlalu banyak perempuan ini ga berubah kok :)
This family life is unusual, they've been through many paths yang ga biasanya dilewatin rakyat jelata. Gw percaya perjalanan itu yang membentuk keluarga kalian and that's okay.. You don't hurt people here. So what's wrong with having your writing style changing? Fact! Fact! People grow up, we move on. Ya gw mengerti that there's such thing about personal branding but if Adinda feels she's got no more freedom writing in her own space, I do understand if she wants to stop blogging. Even though I wish she's not.. Krn gw pasti akan kangen banget bacanya 3> *doohh,, rasanya ni comment ga tersrtuktur banget sih Haha

Adinda Adhit said...

Hi, Mrs. Rizki, thanks for your comment ya... Ya udah risikonya kalau menulis dan dibaca orang. Gw memang harus lebih mempersiapkan diri menanggapi komentar dan reaksi yang beda dari pembaca yang beda pula. Thank you for being honest and objective :-) Fortunately, saat ini bukan vacuum karena respon dari readers kok (mereka baik-baik). Tapi akhir-akhir ini kami sedang super hectic. Setelah urusan beres, nanti kami balik dengan banyak cerita :-)