Waktu saya masih kecil, saya adalah satu-satunya anak bokap dan nyokap yang selalu bikin kepala cekat-cekot setiap pagi berangkat sekolah. Saya ngga tau apa penyebab persisnya, tapi perbedaan usia 3 dan 5 tahun antara saya dengan Kak Andhika dan Kak Adhit juga menyebabkan gap perilaku di sekolah yang sangat jauh. Dulu saya trouble maker -- kedua kakak saya juara kelas dan jago olah raga. Kalau nyokap datang ke sekolah di luar jadwal meeting POMG atau penerimaan rapot, itu karena saya bikin ulah. Meskipun suatu hari saya sadar kalau saya harus berubah, kedua kakak saya ngga keliatan mendukung niat saya itu. Waktu kelas 1 SMP pernah pulang sekolah saya langsung makan sore dan ngerjain PR, tapi Kak Andhika dan Kak Adhit langsung ngajak saya nonton softball di Senayan. Sebenernya mereka cuman mau ngecengin cewe-cewe SMA yang cantik. Pulang-pulang kami naik bus dan kehujanan. Di depan pintu apartment langsung ditegur sama nyokap karena seharusnya ngerjain PR dulu baru main (classic!), tapi dengan santainya Kak Andhika dan Kak Adhit bilang kalau mereka ngga ada PR. Saya? PR-nya banyak. Karena ngerasa tanggung jawab, akhirnya Kak Andhika dan Kak Adhit bantuin saya ngerjain PR. Besoknya ternyata di kelas satu per satu murid maju ke depan kelas untuk ngerjain 1 nomor soal. Saya ngga bisa jawab dan dikeluarin dari kelas, bertepatan dengan gebetan saya olah raga, terus dia nanyain kenapa saya ngga masuk kelas. Jawaban saya jujur aja apa adanya -- yang bikin harga jual saya merosot abis-abisan.
Saya cukup dini untuk mengenali situasi kalau Si Bungsu selalu kena getahnya. Dalam banyak hal, saya menampung sifat jelek yang ngga dimiliki kakak-kakak saya (kenapa ngga satu pun kakak saya suka nempelin permen karet di bawah meja sementara saya hobi banget berbuat nista begitu?) Lagi pula gimana nyokap bisa nyalahin Kak Andhika yang 'terlihat' selalu ada untuk adik-adiknya dan Kak Adhit yang mukanya terlihat selalu responsible (padahal ngga begitu kenyataannya)? Saya anak bawang yang ingusan (literally. Thanks sinuses), pembuat onar pula. Dimarahin pun udah masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Besoknya, diulangi lagi.
Tapi seumur hidup saya, saya ngga pernah mau punya 2 kakak lain selain Kak Andhika dan Kak Adhit (that's very sweet of me. You're welcome!). Meskipun waktu kecil saya sering kesal sama mereka (mulai dari ngerjain saya sampai rebutan Sega) saya bangga melihat siapa mereka hari ini. Di umur saya yang sekarang ini mereka udah bisa nentuin hidup mau kemana dan mau jadi apa mereka di masa depan nanti. Most importantly, mereka udah jadi ayah dan bertanggung jawab penuh terhadap perannya itu. Bukan cuma sebagai ayah, tapi sebagai sosok yang mirip banget sama orang yang selalu saya kagumi: Ayah kami.
Saya orang yang cukup emosional dalam mengingat masa lalu. Dulu Kak Andhika adalah kakak yang semangat ngajarin saya pelajaran, mulai dari berhitung sebelum saya kelas satu. Saat ini dia duduk di meja kecil bersama putranya dan mengajarkan dia berhitung. Dulu Kak Adhit sering main bola di dalam ruangan rumah dan bikin berantakan. Sekarang, dia selalu menjaga rumahnya rapi supaya anak-anaknya nyaman. Banyak hal-hal lain yang bikin saya ngga percaya kalau mereka 'bukan' orang yang dulu lagi. Mereka udah jadi orang yang jauh lebih bijak dan terutama udah jadi orang yang berpengaruh bagi unit kecil yang baru di dalam kehidupannya. Mereka selalu berusaha menjadi pahlawan bagi unit tersebut, yaitu keluarganya. Menurut saya banyak perubahan yang terjadi ketika seorang laki-laki menjadi ayah dan itu terjadi dengan cepat hanya seperti kita sekali menjentikkan jari. Maksud saya, menjadi ayah adalah sebuah proses yang cepat. Dalam suatu waktu mereka mengantarkan istri mereka ke delivery room, and the next minute they became a dad! Tentunya banyak penyesuaian yang harus dilakukan di sini dan di sana, but you know, like many other daddys, they made it. Sejak itu kakak-kakak saya bukan orang yang sama lagi seperti yang lalu karena mereka manusia yang selalu berkembang, terutama karena didukung oleh tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Both of my brothers take pride in being their children's daddy, just like our father who had been there through good and bad. Happy fathers day! (And happy father's day in heaven, Pap!)
6 comments:
*terharu.. :')
saya (selalu) penasaran sama yang namanya Abhi. Akhirnya......
Semoga Mba Adinda bisa ngeblog lagi secepatnya yah. We (saya dan gerombolan sirkus) miss you mba,,
Wow, man. I don't know what to say! I miss my little guyyy. Just stop growing up!!!!
Bener banget, gwe ngerasa perubahan pada Fed cepet banget. Gwe aja yang 'baru' kenal langsung takjub gimana dia bisa berubah secepat itu setelah Lucas lahir, so I know hows your feeling yang udah kenal kakak2 lo seumur hidup. Dibalik diri lo ternyata ada esmosi jiwa yang *ehem-ehem*. Hallelujah Abhi!
waaaaow, bhi. thank you for guest posting this blog.. it's brilliant! kalau lagi inget rumah gw juga selalu inget dulu2 kita bertiga. all things memang slightly different beberapa tahun belakangan ini tapi kita bertahan sebagai pap & mam's three musketeers no matter what. yea for bad things I did when we were young, I'm sorry. you're always be my littttttttle bro, dude!
thank you, it's beautiful. ps: you'll make a great father someday. but first you have to make a girl very happy *sour face*
Abhi sayank. Semua anak mama sama nakalnya,sama gantengnya, sama baiknya, sama-sama bikin mama dan alm. Papa bangga. Tapi setiap orang ada kelemahan dan kelebihan yang gak dimiliki oleh orang lain sekali pun mereka bersaudara. Begitu pula dengan my '3 Musketeers'. Jangan pernah sesali kenapa Abhi merasa Abhi berbeda dari kakak-kakakmu,tapi syukurilah karena dengan perbedaan itu kalian saling melengkapi,bertoleransi, dan saling menjaga. Syukurilah diri Abhi sendiri, apa adanya; jadilah orang yang baik menurut pandangan Abhi dan agama. Insya Allah, Abhi pun pada akhirnya akan membuat kakak-kakak Abhi bangga. Udah ya, nanti mama curhat. Cerita sebelum tidur nih bwat mama. I love you Abhi... Mama.
Abhi, Adhit, Mama... that was sweet :'-) Seneng banget nggak salah milih Abhi buat nulis. Thank you ya, Bhi... you did a good job!
@Ega: We'll be back ya. Ada hikmahnya juga donk vacuumnya, jadi bisa "ketemu" Abhi :-D
@Made: I know! But none can stop him. LOL.
@Meya: Exactly! Gw jadi ngerasain hal yang sama ke sibs (esp. my older sis)... gw kenal mereka seumur hidup gw. It's magical.
Post a Comment