Guest Post: The moment taker by Maya "Made"

Tadinya gw mau posting guest post ini pada bulan January 2012, but I couldn't wait! Just in case teman" lupa, selama gw sibuk ini gw ingin tetap memposting sesuatu yang menarik untuk blog ini, karena itu ada Guest Post. Kali ini adalah Maya "Made", seseorang yang sepuluh-duapuluh kali pernah readers tanyain kenapa kok si Adinda bisa temenan sama mantannya Adhit :-D To know her better, I proudly present her priceless blog post. (Adinda)

---

Hi!
Sebuah kehormatan *banget* saya bisa mengisi blog postnya Adinda & Adhit. Awalnya saya bingung tapi merasa terchallenge untuk menulis sebuah postingan tamu, apalagi gaya blogging saya dan Adinda berbeda. Kalau Adinda lebih ke daily life and her thoughts, saya lebih random.. kadang mellow, kadang ngelucu sendirian, dan ada kalanya saya nulis banyak untuk ungkapin hal-hal apa aja yang ada di kepala.

Oya, nama saya Maya, saya memakai nama Misswhadevr di Internet, and I write www.misswhadevr.blogspot.com.

Selain musik, saya senang memotret moment dan still life. Ketika saya nulis ini, sebenarnya saya baru selesai dari bingung.. Am I really into photography? Saya mulai menyangsikan minat saya pada fotografi dan mulai males memanggil diri saya sebagai fotografer setelah menyadari kalau pendapatan saya dari fotografi sesungguhnya cuma 15% dari annual revenue saya. Saya ngga lagi gigih untuk mendapatkan job seperti tahun sebelumnya karena my primary job as an consultant and also a postgrad student are taking their toll on me. Bahkan saya sempat diejek fotografer gadungan karena dikira pakai DSLR untuk gaya-gayaan aja.

But then I realised.. kita ngga harus punya 100% pendapatan dari motret untuk menjadi seorang fotografer. While I'm no a professional photographer, I absolutely love to take pictures. Berbekal DSLR yang dihadiahkan oleh ibu saya, I'm generally the official "moment taker" at most any event I go to such as family gathering and arisan, coffee time with friends, and fun or serious times at work.

Ada hal berbeda yang bisa saya pelajari dari memotret sebagai "the real photographer" dan memotret sebagai "moment taker" (alias fotografer gratisan tee-hee). Sekarang saya merasa lebih confident sebagai moment taker. Tidak ada pressure untuk menghasilkan gambar yang bagus, tidak perlu bekerja keras untuk meet client's demand, tidak perlu senewen dengan pencahayaan yang kurang bagus, dan tidak perlu bermimpi punya equipment yang ngga mampu saya beli. As the moment taker, you are capturing the sanity and insanity around you, small and big random thing interests you, anything that you can reinterpret its beauty or moment through you own vision; whether a snapshot or planned out, whether the camera is of poor quality or not.

Sekarang saya sedang senang posting foto di Instagram. Awalnya saya kira Instagram ini adalah aplikasi untuk edit-edit foto dan saya ngga tertarik (saya ngga suka edit foto), makanya saya hanya pakai untuk edit beberapa foto untuk dipost di blog. Tapi setelah saya tahu bahwa Instagram bisa follow-and-like, saya jadi senang untuk menjadikan aplikasi ini sebuah photoblog, bahkan Twitter saya yang baru. Instagram is a type of art I could create in a short time - it completed my love to photography. My love to photography is simple: life is so complex and being able to capture a single moment in time that gives us a glimpse into ourselves is a wonderful feeling.

Ngga ada salahnya untuk meng-consider diri kita sebagai seorang fotografer jika kita memang mau seperti itu. Trust your vision, you can feel the camera shutter sound that brings satisfaction to your ears, and everythings changes quickly and immediately after the shot. Pictures are lovable afterall ;)

Ultimately what is relevant is that if you enjoy taking photographs then that is what it all is about, regardless that others may not agree with how you have been taking the photo's :)

Well, thanks for reading. See you when I see you.

♥, Me

2 comments:

meya margareth larson said...

Yes, awalnya saya juga bingung kenapa banyak orang yang claim diri sebagai fotografer (termasuk Adinda yang moody to the max motretnya padahal gadget canggih) but it's OK thou' karena "banyak" dan nggak sendirian :P I can relate, dari anak labil yang suka narsis motoin diri sendiri pakai kamera handphone, saya suka motretin anak saya dan akhirnya nyadarin moment-moment dia bayi berlalu begitu aja dnegan cepat (dan tentunya moment saya "muda" juga udah lewat :P). Kalo saya bisa relevansikan dengan hidup, postingan ini ibarat dedikasiin diri elo sendiri untuk mengabadikan moment dalam hidup lo karena semua hal dalam hidup akan berubah dengan cepat. And I fully agree.

therunningdee said...

Agak antiklimaks ya karena dipikir bakal bahas "itu". Nice post anyway, you always know what to say, De!